Permasalahan gizi anak di Indonesia adalah problematika yang sangat serius dan perlu segera ditangani. Sebab, gizi merupakan fundamental yang sangat penting bagi anak-anak untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya. Ketiadaan gizi yang memadai dan berkelanjutan dapat menyebabkan komplikasi kesehatan serius pada anak-anak. Maka dari itu, mari kita kenali berbagai permasalahan gizi di Indonesia dan tindakan penanganan yang bisa dilakukan. Dilansir melalui litbang kemenkes tentang PREVALENSI STATUS GIZI BALITA NASIONAL TAHUN 2019-2021, disebutkan terdapat 3 masalah gizi yaitu Stunting (bertubuh pendek), Wasted (kurus), Overweight (kelebihan berat badan)
Masalah Gizi Pada Anak
Gizi buruk menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup banyak menimpa rakyat Indonesia, terutama di wilayah bagian timur. Selain itu, masalah gizi di Indonesia umumnya meliputi anak stunting (bertubuh pendek), wasted (kurus), dan overweight (kelebihan berat badan).
- Stunting (Bertubuh Pendek)
Stunting adalah kondisi tinggi badan anak jauh lebih pendek dibanding tinggi badan anak sesuainya. Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis sejak baik di dalam kandungan, sampai anak usia dua tahun. Beberapa tahun belakangan, pencegahan stunting sebagai masalah gizi pada balita sedang digalakkan oleh pemerintah Indonesia.
- Penyebab Stunting
- Pemberian makan yang tidak tepat
Praktik pemberian makan yang tidak tepat pada bayi bisa menyebabkan stunting yang termasuk pada masalah gizi balita. Pemberian makan di sini tidak hanya ketika MPASI (makanan pendamping ASI), tetapi juga menyusui yang tidak optimal.
- Penyakit menular dan infeksi
Infeksi dan penyakit menular bisa menyebabkan stunting. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh paparan lingkungan yang terkontaminasi dan kebersihan yang buruk. Kondisi ini membuat fungsi dan kemampuan usus berkurang sehingga menyebabkan penyakit jadi lebih mudah masuk.
- Kemiskinan
Sebagian besar dari kondisi kemiskinan atau pengasuh yang kurang awas terhadap gizi balita, bisa menyebabkan masalah pada balita. Salah satu masalah makan pada balita adalah praktik pemberian makan yang kurang tepat. Beberapa contohnya seperti makan sambil digendong atau bermain. Selain itu, makanan yang tidak bervariasi bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan balita.
- Mengatasi Stunting Dengan Konsumsi Makanan Yang Bergizi
- Protein
Semua nutrisi di dalam makanan sebenarnya penting untuk anak. Namun, untuk anak stunting ada beberapa jenis zat gizi yang perlu dikonsumsi lebih banyak. Salah satu zat gizi tersebut yaitu protein karena mampu membentuk sistem kekebalan tubuh balita dan menunjang pertumbuhan serta otot
- Zat Besi
Selain protein, ada zat besi yang membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Ini membuat jaringan tubuh berkembang sesuai fungsinya. Kekurangan zat besi bisa menghambat pertumbuhan dan menyebabkan anemia. Kalau tidak ditangani, kondisi ini bisa menghambat perkembangan mental.
- Kalsium & Vitamin D
Fungsi utama kedua kandungan ini adalah menjaga kekuatan tulang. Kalsium merupakan bahan utama di dalam tulang, sedangkan vitamin D membantu proses metabolisme kalsium. Kalsium juga dibutuhkan untuk kesehatan sistem saraf, otot, dan jantung.
- Wasted (Kurus)
Masalah gizi yang rentan terjadi pada anak kedua adalah wasting atau kurus. Anak-anak cenderung memiliki tubuh yang kurus, apalagi bila dibesarkan dalam keluarga berpenghasilan rendah atau miskin. Kurusnya tubuh anak, umumnya disebabkan oleh kurangnya asupan zat gizi Malnutrisi atau kurang gizi merupakan masalah gizi pada balita dengan kondisi tubuh terlalu kurus. Sama seperti obesitas, anak balita yang kekurangan gizi juga memiliki risiko kesehatan yang buruk. Pasalnya, kebutuhan zat gizi yang kurang terpenuhi di masa pertumbuhan, bisa membuat anak lebih mudah sakit dan terkena infeksi di awal kehidupannya. Hal tersebut bisa berpengaruh pada kesehatan anak ketika ia sudah dewasa. Anak balita yang kekurangan gizi biasanya bermasalah dengan asupan vitamin, mineral, dan kandungan penting lainnya.
- Penyebab Anak Kurang Gizi
- Akses Mendapatkan Makanan
Ketika orangtua kesulitan untuk mendapatkan makanan kaya gizi dan nutrisi hal ini bisa menyebabkan anak balita kekurangan gizi.
- Masalah Penyerapan Gizi
Selain akses dalam mendapatkan makanan padat nutrisi, masalah penyerapan nutrisi pada tubuh juga bisa menyebabkan kurang gizi. Salah satu contohnya yaitu karena pertumbuhan bakteri yang berlebih di usus.
- Mengatasi Kurang Gizi
Ada beberapa cara yang harus dilakukan ketika anak mengalami kekurangan gizi , yaitu :
- Melakukan Pemantauan Kesehatan
Apabila anak sudah didiagnosa oleh dokter mengalami kekurangan gizi, alangkah baiknya segera langsung dibawa ke rumah sakit agar kesehatan nya bisa di pantau dan mendapatkan asupan suntikan seperti kalium ataupun kalsium agar anak bisa mencapai berat badan yang ideal.
- Memberikan ASI atau Suplemen Kesehatan
Seharusnya, untuk anak yang masih dibawah satu tahun wajib mengkonsumsi ASI. Pemberian ASI sebaiknya lebih sering dari biasanya dan hindari langsung memberikan susu formula campur ASI untuk mengatasi masalah ini. Sedangkan untuk anak yang diatas satu tahun , seharusnya diberikan suplemen vitamin dan mineral, baik yang berbentuk bubuk atau tablet, untuk remaja dengan gizi kurang bermanfaat agar nafsu makannya meningkat. Namun, alangkah lebih baik bila Anda konsultasi lebih lanjut dengan dokter. Dokter mungkin akan meresepkan vitamin penambah nafsu makan anak jenis tertentu tergantung dari kondisi kesehatan dan tingkat keparahan gizi kurang pada remaja.
- Overweight
Menurut Global Nutrition Report tahun 2014, Indonesia merupakan salah satu dari 17 negara yang memiliki tiga masalah gizi pada balita yang bertolak belakang. Di satu sisi mengalami kekurangan gizi, tapi di sisi lain ada yang obesitas. Berbagai permasalahan ini misalnya, stunting, wasting (kurus), dan obesitas atau gizi berlebih.Obesitas merupakan kondisi tidak normal karena tubuh memiliki kelebihan lemak di dalam jaringan adiposa yang bisa mengganggu kesehatan.
Balita usia 2-5 tahun bisa dikatakan obesitas bila grafik pertumbuhannya menunjukkan tanda di bawah ini, mengutip WHO:
- Kelebihan berat badan ketika berat badan balita > 2 SD di atas garis standar pertumbuhan WHO
- Obesitas adalah kondisi berat badan balita > 3 SD di atas garis standar pertumbuhan WHO
Melihat penjelasan di atas, penting untuk orangtua menghitung tinggi dan berat badan si kecil secara bersamaan agar pertumbuhannya proporsional. Apakah angkanya sesuai dengan grafik pertumbuhan di usianya atau tidak.
Dengan begitu Sahabat Kaef tidak hanya fokus pada berat anak balita. Jika kebingungan bagaimana menghitung berat dan tinggi badan ideal si kecil, mintalah bantuan dokter untuk melakukannya.
- Faktor Meningkat Obesitas
- Meningkatnya Konsumsi Tinggi Kalori
Mengutip dari Mayo Clinic, mengonsumsi makanan tinggi kalori secara terus menerus bisa menyebabkan obesitas pada balita. Ditambah lagi, di usia 2-5 tahun nafsu makan si kecil sedang berubah-ubah dan ingin mencoba banyak makanan baru. Makanan yang termasuk tinggi kalori seperti makanan cepat saji, makanan dipanggang, dan makanan ringan.
- Kurang Olahraga
Ada tipe anak yang senang makan tapi malas bergerak, inilah yang bisa menjadikannya obesitas. Anak balita yang kurang olahraga bisa memicu masalah pada gizi yang berbahaya, seperti obesitas. Biasanya hal ini terjadi ketika anak terlalu banyak makan tetapi jarang bergerak karena terlalu sering menatap layar untuk main gadget.
- Faktor Keluarga
Bila Anda, pasangan, atau keluarga memiliki riwayat obesitas, kemungkinan besar hal ini akan diturunkan pada si kecil. Terutama bila keluarga terbiasa untuk mengonsumsi makanan tinggi kalori tanpa melakukan kegiatan fisik, seperti olahraga.
- Mengatasi Obesitas
Ada beberapa cara yang harus dilakukan ketika anak mengalami obesitas , yaitu :
- Membatasi konsumsi minuman yang mengandung pemanis.
- Ganti snack yang manis dengan buah-buahan.
- Memberi banyak asupan buah dan sayur.
- Batasi makan di luar, terutama restoran cepat saji.
- Sesuaikan porsi makan dengan usia anak.
- Batasi pemakaian TV atau gadget setidaknya hanya dua jam sehari.
- Pastikan anak cukup tidur baik di siang maupun malam hari.
Kunjungi dokter untuk melakukan pemeriksaan, setidaknya setahun sekali. Dalam kunjungan ini, dokter akan mengukur tinggi dan berat badan si kecil, lalu menghitung indeks massa tubuh (BMI). Pengukuran ini penting untuk melihat apakah tubuh si kecil sudah proporsional atau belum.
Nah, itulah 3 permasalahan gizi pada anak yang sering kali tidak disadari oleh orangtua. Bila ingin berkonsultasi untuk menanyakan terkait permasalahan gizi pada anak, jangan ragu untuk menjadwalkan konsultasi dengan melakukan reservasi klinik melalui aplikasi Kimia Farma Mobile. Yuk, download aplikasi Kimia Farma Mobile sekarang juga di App Store dan Google Play !
Sumber
https://www.litbang.kemkes.go.id/buku-saku-hasil-studi-status-gizi-indonesia-ssgi-tahun-2021/
https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/obesity-and-overweight
https://www.who.int/data/nutrition/nlis/info/malnutrition-in-children
https://id.theasianparent.com/masalah-gizi-pada-anak
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/childhood-obesity/symptoms-causes/syc-20354827
#DekatCepatSehat
