You are currently viewing Kenali Tanda – Tanda Terjebak Toxic Productivity, Obsesi Untuk Terus Produktif

Kenali Tanda – Tanda Terjebak Toxic Productivity, Obsesi Untuk Terus Produktif

Toxic productivity kerap disebut sebagai produktivitas yang beracun atau toksik. Hal Ini merupakan suatu kebiasaan yang sudah tidak asing lagi terdengar di telinga, karena hampir semua orang, sadar atau tidak sadar tengah terjebak di dalamnya.

Nah, apakah Sahabat Kaef adalah seseorang yang tengah mengalami toxic productivity? Jika iya, maka sebelum membicarakannya dengan profesional,  sebaiknya mengetahui ciri-cirinya terlebih dahulu dan cara mengatasinya.

Apa Sih Toxic Productivity Itu? 

Produktivitas yang satu ini cukup berbeda dengan produktif secara normal. Karena, keadaan satu ini merupakan kebiasaan di mana seseorang mempunyai kebutuhan obsesif agar ia selalu produktif, tanpa mempedulikan hubungan, kesehatan, serta kehidupannya.

Doing bias atau action bias merupakan istilah lain yang bisa menggambarkan kebiasaan ini. Hal tersebut berarti, seseorang terpacu agar tetap produktif. Dengan begitu, hasil yang diperoleh kerap kurang maksimal.

Tidak hanya itu, terdapat kondisi lain pula yang sering kali disejajarkan dengan toxic productivity . Dua kondisi itu, yakni hustle culture dan workaholic. Walaupun serupa, ketiganya ternyata menggambarkan perbedaan kondisi.

Mengutip dari American Physiological Association atau APA, workaholic yakni kebutuhan bekerja tanpa kendali. Seseorang yang telah terjebak pada kebiasaan ini umumnya hobi bekerja dan memiliki pikiran yang terpaut dengan pekerjaan, walau telah di luar jam kerja.

Sementara itu, hustle culture merupakan satu keyakinan diri seseorang kalau bekerja keras merupakan aspek terpenting dalam kehidupan. Seseorang yang tengah berada dalam kondisi ini dapat merasa menjadi orang yang penting jika mempunyai kesibukan.

Tanda Terjebak Toxic Productivity 

Perasaan puas lahir dari kesibukan. Sewaktu kesibukan tersebut mendorong meraih pencapaian, maka tubuh dapat meningkatkan hormon dopamine, suatu hormon pemicu rasa bahagia.

Hal ini lalu dapat membuat semakin terdorong agar terus dan konsisten produktif agar dapat mendapatkan pencapaian selanjutnya. Kemudian hal ini pun berlangsung terus-menerus sehingga dapat menjadi candu.

Supaya tidak terjebak produktivitas toksik lebih dalam, sebaiknya kenali tanda-tandanya berikut: 

  • Bekerja Terlampau Keras 

Seseorang yang memiliki tanda terjebak toxic productivity umumnya bekerja terlampau keras, sampai dapat mengganggu kesehatannya dan kehidupan sosialnya.

Mempunyai tekad kuat pada suatu hal memanglah baik. Akan tetapi, apabila hal tersebut sampai mengacuhkan kebutuhan diri sebagai insan, hal tersebut dapat berubah menjadi toksik.

  • Ketidakpastian Ekspektasi

Tanda-tanda seseorang terjebak produktivitas toksik satu ini adalah mempunyai ekspektasi tidak realistis pada suatu hal. 

Seseorang yang mempunyai ekspektasi berlebihan serta tidak realistis umumnya akan sekuat tenaga berusaha produktif supaya tujuan itu tercapai.

Mempunyai target terkait suatu pekerjaan tentu bagus, asalkan target itu masuk akal dan tidak membebani.

  • Kesulitan Beristirahat

Toxic productivity akan menyebabkan seseorang sukar untuk mengistirahatkan dirinya. Bahkan, saat dalam keadaan sakit. Nah, produktivitas toksik ini mendorong seseorang agar selalu bekerja. 

Waktu senggang dapat dimanfaatkan untuk istirahat, mengumpulkan energi, serta memulihkan diri. Namun, orang dengan produktivitas toksik akan memanfaatkan waktu tersebut untuk bekerja.

Hal ini disebabkan bahwa bekerja dalam waktu yang lama dapat mendorongnya merasa senang serta berada dalam kontrol. Seseorang dengan kebiasaan ini beranggapan bahwa orang yang mampu beristirahat tidak mempunyai target.

  • Merasa Bersalah Apabila Tidak Bekerja 

Tidak hanya kesulitan beristirahat, tanda-tanda lain seseorang terjebak dalam produktivitas toksik ialah kemunculan rasa bersalah saat tidak mengerjakan sesuatu.

Kehampaan atau kegelisahan juga dapat dirasakan saat seseorang tersebut tengah menjalani sejumlah kegiatan yang menurutnya ‘tidak produktif’. 

  • Kerap Menilai Diri 

Seseorang yang tengah mengidap toxic productivity kerap menilai dirinya sendiri menurut sesuatu yang belum ia kerjakan. 

Ini dapat mendorong orang tersebut bekerja terus-menerus demi mencapai atau melampaui target tanpa sadar akan pencapaian sebelumnya.

Tidak hanya itu, produktivitas toksik mampu membuat orang merasa gagal apabila tidak menyelesaikan target di luar jam kerja.

  • Tidak Pernah Merasa Puas 

Saat menyelesaikan suatu target, seseorang yang mengidap produktivitas toksik umumnya tidak akan bisa merasa puas. Sekalipun, sewaktu pekerjaan mereka telah terlampau cukup.

  • Ketidakwajaran Rasa Lelah

Wajar saja apabila merasa kelelahan lantaran pekerjaan. Akan tetapi, seseorang mengidap produktivitas toksik mampu merasakan ketidakwajaran rasa lelah.

Keadaan ini dapat dirasakan saat bangun pagi. Sesudah memperoleh waktu istirahat pun, perasaan lelah tersebut tetaplah ada.

Nah, jadi itulah sejumlah tanda bahwa Sahabat Kaef tengah terjebak dalam produktivitas yang toksik. Namun, tidak perlu khawatir, karena dapat berkonsultasi tentang hal ini dengan psikolog sembari melakukan beberapa cara untuk enyah dari kebiasaan ini.

Beberapa Cara Untuk Mengatasi Toxic Productivity 

Di bawah ini merupakan sejumlah hal yang dapat dilakukan agar dapat keluar dari kebiasaan produktivitas toksik: 

  • Lebih Realistis Berekspektasi 

Sahabat Kaef dapat mengatur target atau ekspektasi pencapaian lebih realistis. Maka demikian dapat bekerja dengan porsi ideal serta memperoleh cukup durasi istirahat. 

Apabila merasa terbebani oleh jumlah target pekerjaan dapat mengatur prioritas serta mengurangi target terlebih dahulu, kemudian menyesuaikan tugas-tugas yang tersedia.

  • Cukup Istirahat 

Sahabat Kaef sebaiknya bekerja sesuai tugas atau porsi. Setelah semuanya selesai, maka dapat memanfaatkan waktu senggang dengan maksimal. Hal tersebut lebih mampu menyelaraskan mental dibanding mengerjakan sesuatu terus-menerus.

  • Menyeimbangkan Kehidupan Pribadi dengan Pekerjaan

Supaya tidak terperangkap dalam  toxic productivity, maka perlu menyeimbangkan kehidupan pribadi dengan pekerjaan. Sebaiknya ini jangan sepelekan, dan lebih baik aturlah kembali waktu.

“Work life balance”, itulah konsep yang sebaiknya diikuti. Dengan menjalani kehidupan dengan seimbang, menetapkan sejumlah batasan dasar, dan memperbaiki pola hidup, maka  akan lebih merasakan manfaatnya.

  • Mindfulness

Ini merupakan salah satu cara agar dapat terhubung dengan apa yang terjadi detik ini, serta mendorong untuk menerima dan mengamati hal yang tengah terjadi tanpa menghakiminya.

Melalui hal ini, dapat peka terhadap keinginan dan kebutuhan tubuh. Oleh sebab itu, cara ini penting untuk kesehatan, serta kemampuan kemampuan berpikir secara logis.

Tidak hanya itu, melalui mindfulness,  dapat lebih memahami apa yang benar dibutuhkan atau tidak, supaya memperoleh gaya hidup sehat tanpa diikuti produktivitas toksik. 

  • Menciptakan Peraturan

Ciptakan sejumlah peraturan yang wajib dipatuhi, contohnya dilarang mengoperasikan ponsel pintar ketika makan, dilarang bekerja tanpa istirahat serta lebih dari 3 jam, serta bekerja maksimal 40 jam dalam satu minggu, dan lainnya.

  • Melakukan Self-Care

Sebaiknya jangan melupakan apresiasi untuk diri sendiri. Tidak hanya melalui mencukupi kebutuhan istirahat, sebaiknya luangkan waktu  untuk berolahraga maupun bersantai sembari menenggak secangkir minuman hangat. 

Sahabat Kaef pun dapat meluangkan waktu  demi melakukan hal favorit atau hobi. Contohnya yakni membaca, menonton film, memasak, bermain sepatu roda, menggambar, dan masih banyak lagi.

  • Meminta Pemantauan

Apabila sulit mengendalikan diri dalam mencegah kebiasaan produktivitas toksik, sebaiknya cari seseorang yang mampu mengawasi serta mengingatkan apabila produktivitas harian telah mulai melampaui batasan.

Itulah penjelasan mengenai toxic productivity yang rentan dialami para pekerja mulai dari tanda-tanda sampai cara mengatasinya. Bila Sahabat Kaef sakit akibat bekerja terlalu keras, segera berobat ke dokter dengan buat janji di klinik terdekat pilihan melalui aplikasi Kimia Farma Mobile. Yuk, download aplikasinya di Google Play Store atau Apps Store sekarang juga untuk mendapatkan solusi kesehatan terlengkap dengan mudah.

Sumber

https://health.kompas.com/read/2021/10/13/050000468/tanda-anda-terjebak-toxic-productivity?page=all

https://yoursay.suara.com/lifestyle/2021/05/05/170445/jarang-disadari-ini-4-tanda-terjebak-dalam-toxic-productivity

#DekatCepatSehat